Tau apa kamu nih -_-
Hari ini saya
dapet pelajaran, mungkin juga sebuah peringatan buat diri saya sendiri yang
secara nggak langsung dateng dari orang lain. Sore hari saya lagi ngerjain revisi skripsi saya (huft) dengan dua orang teman saya yang sedang berdiskusi
entah apa. Tiba- tiba salah satu teman saya menengok pekerjaan saya, dan nggak
tau gimana alurnya, sampailah ketika
teman saya menanyakan sesuatu yang sangat dasar dengan nada mengejek, menguji,
atau embuhlah, yang jelas saya nggak tau maksudnya apa. Saya ingat
persis pertanyaannya seperti ini “emangnya kamu tau A itu apa?”.
HAH? Sontak saya
mlengos dan agak pengen ketawa dalam
hati. Jujur aja saya bukan orang yang merasa diri saya pinter, dan saya memang bukan orang pinter juga sebenernya, apalagi dalam hal akademis. Saya juga selalu merasa
nggak PD dan ngerasa 'yah orang lain pasti lebih tau laaaaah daripada saya'. Tapi, saya ngerasa apa yang ditanyain temen saya itu adalah pertanyaan dasar yang saya pikir semua orang di jurusan saya
pasti tau jawaban dan penjelasannya.
Oke balik
lagi, poin di sini bukan masalah bagaimana nada teman saya bertanya, atau apa
maksudnya dia bertanya. Saya jawab pertanyaannya yang syukurnya bener (mehehe),
lalu selesai. Tapi satu hal penting yang saya sadari, dari pertanyaan teman
saya, saya jadi tau sesuatu “Oke nih, ini orang nganggep aku nggak tau apa- apa”.
Well, tapi itu nggak masalah, toh nyatanya banyak kok yang masih saya nggak
tau.
Intinya disini
sih, bukan masalah temen saya nganggep saya apa atau gimana, tapi lebih kepada diri saya
sendiri. Setelah saya jawab
pertanyaannya, saya seperti di sentil dan disadarin sama sesuatu. Batin saya
tiba- tiba ngomong “Nggiiiiiiiiiii.., jangan pernah sampe berpikir atau mengira orang lain tu nggak tau apa-
apa, jangan pernah sampe berpikir orang lain lebih nggak tau daripada kamu, dan
jangan pernah sampe berpikir orang lain nggak tau tentang apa yang kamu tau.”
Saya nggak mau
diri saya ada di dalam posisi temen saya saat itu, karena kalau ada orang lain
yang ada di posisi saya waktu itu, pasti udah saya udah diketawain abis- abisan
dalem hati seperti yang pengen saya lakuin ke temen saya, tapi toh saya cuma
orang yang nggak tau apa- apa, jadi yaaaa...nggak jadi deh ngetawainnya,
heheh.
Yah okelah balik lagi, mungkin
yang harus dipelajari dari sebuah ketidaktahuan saya terhadap banyak hal adalah hal itu bikin saya jadi selalu ingat supaya nggak mandang bahwa orang lain ‘lebih
tidak tahu’ daripada kita. Mungkin juga, kebodohan saya lah yang mengontrol dan
ngajain saya untuk selalu mawas diri untuk jangan pernah sama sekali memandang
orang lain ‘lebih nggak tahu’ daripada kita. Tiba- tiba ingat akan pesan bapak saya waktu saya kecil, “Orang hidup itu jangan pernah meremehkan orang lain karena
orang lain itu harus selalu dijunjung tinggi, tua atau muda, jangan pernah dibedain." Dan yaaah, mungkin arti dari pesen
itu baru bener- bener saya pahami sekarang -_-.
Arsip
Apa sih
pentingnya sebuah foto?
Saya
pikir tiap orang punya penilaian sendiri untuk itu. Dan saya, termasuk orang
yang menganggap foto ada sebuah hal yang sangat penting. Bukan berarti lalu
saya suka foto- foto. Tapi ada suatu saat di mana sebuah momen harus
diabadikan. Foto adalah arsip dari waktu- waktu yang udah habis dan nggak akan
bisa saya ulang lagi, momen- momen yang saya lewatin dan nggak bisa kita rasain
lagi, dan seririg waktu bakal jadi masa lalu.
Misalnya
ya, kapan lagi bisa ketemu sama orang- orang itu, dengan keadaan dan kondisi
yang sama, ketika mereka begitu dan saya seperti ini. Mungkin kita bisa ketemu
lagi dengan orang- orang yang sama, tapi saya yakin kondisinya nggak bakal
sama.
Nggak perlu foto yang diambil pake kamera bagus, ga perlu cahaya yang gimana, cuma foto yang mungkin dianggep remeh temeh. Tapi dari sebuah foto, saya bisa balik ke masa lalu, bisa ngerasain gimana atmosfer ketika foto itu di ambil,
ngerasain apa aja yang ada di balik foto itu, suasananya, kondisinya, dan mengingat visual- visual yang saya lihat ketika foto itu di ambil.
Dan saya sedih banget, ketika saya gagal ngambil foto untuk keadaan- keadaan
tertentu yang nggak bisa saya ulang.
Ketika saya nggak bisa ngambil sebuah foto yang pengen saya abadikan sama orang- orang dengan kondisi dan suasana kala itu, saya ngerasa sedih banget karena saya udah meniadakan sebuah arsip dari masa
lalu saya yang nggak mungkin bisa diambil lagi , nggak mungkin saya ulang lagi, dan mungkin ketika kita ketemu lagi, kondisi dan keadaanya nggak akan sama.
Pikiran Macam Apa
Hari ini saya punya pikiran nggak
penting. Tapi pokoknya saya pengen cerita.
Jadi gini, seiring dengan
bertambahnya waktu geologi, dunia telah mencapai pada kala dengan umur 22 juta tahun setelah kala Holosen, mungkin saya
sebut saja Newsen (Pake akhiran –sen, hehe -_-). Sumber energi, udah bukan dari
minyak dan gas bumi atau batubara lagi, tapi dari sesuatu yang baru yang entahlah apa
namanya. Tapi tetep, sumbernya dari fossil. Sumber energi itu katanya berasal
dari rombakan- rombakan hasil sisa buangan organisme tingkat tinggi yang hidup
muncul pada kala Holosen dan keberadaannya semakin melimpah seiring pertambahan
waktu. Organisme tingkat tinggi tersebut adalah manusia, dan hasil sisa buangan
organisme yang dapat menghasilkan sumber energi itu adalah, sampah -_-
Jadi, eksplorasi untuk mencari
sumber energi tersebut difokuskan pada endapan- endapan dan batuan yang berumur
Holosen asal darat, kemudian dipetakan pula fasies- fasies urban, suburban,
pedesaan, mana hutan, hutan banget, sampai tempat2 yang mencit. Karena logikanya, banyak manusia hidup, pasti banyak
sampah. Tapi sampah bisa juga dibuang ke tempat lain oleh manusia sehingga
tertransport ke tempat lain. Nah lingkungan pembuangan sampahnya harus
diketahui, jadi manusia- manusia masa depan juga harus mempelajari kebiasaan
dan pola hidup manusia pada kala holosen.
Selain itu, mungkin manusia masa depan mungkin lebih gampang buat
melakukan pemetaan paleoenvironment. Bisa dilihat dari kandungan material
vulkanik, kalo ada lingkungan di mana ada material vulkanik dan tiba- tiba atau
secara perlahan nggak ada, kemungkinan itu daeah perkotaan, atau semakin banyak
material vulkaniknya, berarti itu hutan atau tempat mencit lainnya. Yaiyalah,
karena manusia- manusia jelas terganggu dengan endapan vulkanik tersebut dan
ngebersihin itu sampe sebersih- bersihnya semampu kita.
Di sedimen- sedimen Holosen juga
banyak ditemui trace fossil, berupa jalan raya, gedung- gedung dan rumah yang
mungkin udah ada di kedalaman 3000m dibawah permukaan. Dan kalo liat dari
penampang seismik, mungkin daerah urban lebih banyak noise nya karena ada
puing- puing gedung tinggi yang nggak bisa terurai dan udah kependem berjuta-
juta tahun.
Gitu aja, terimakasih. Lanjutannya kapan- kapan ya, kalo tiba- tiba
nggak sengaja kepikiran lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)