Realita
setiap orang lahir dan tumbuh
dari latar belakang yang berbeda
tapi kenapa kita masih selalu dituntut untuk jadi sama?
Kata- kata itu, saya dengar dari teman saya. Waktu di kantin kampus dan ngobrol ngalor ngidul.
Makin saya tumbuh gede, saya jadi makin ngerti realita di luar lingkungan saya. Ternyata banyak hal yang saya nggak tau. Yang tadinya saya tadi pikir "Nggak mungkin lah ada kayak gitu", ternyata banyak. SARA, pergaulan bebas, kriminalitas serta cerita-cerita drama di sinetron yang sempet saya tonton itu.. ternyata berbasis realita -__-
Diskriminatif. Yang paling sedih sih itu ya, kalo ngalamin atau tau kejadian itu secara langsung. Bukan sedih gimana, tapi sedih aja liat pelakunya, "Yaampun, hari gini masih aja beda- bedain orang berdasarkan hal- hal yang kita sendiri nggak bisa atur. Lahir dari perut siapa, tumbuh di keluarga kayak gimana, dikasih pendidikan kayak apa. Jadi, nggak rasional dan kayak nyalahin Tuhan banget deh kalo ada orang yang beda- bedain sesama dari hal- hal kayak gitu. Kalo liat atau tau ada orang kayak gitu, rasanya jadi pengen genggam bat softball sekenceng-kencengnya, trus ngayunin sekuat tenaga buat mukul kepala tu orang.
258 JOGJA
Sugeng Tanggap Warsa Kota Tercinta, Yogyakarta! Biar lebih enak, mungkin saya nyebutnya dengan nama Jogja, kota yang selalu saya pijek semenjak saya belajar ngerangkak sampe sekarang ini. Banyak yang berubah di sini, ya iyalah secara (hampir) nggak ada satupun hal yang statis di alam semesta. Tapi perubahan Jogja bikin saya jadi ngerasa ganjil. Entah memang saya yang nggak siap sama banyak perubahan atau memang kota ini yang berubah kelewat dari batas.
Makin
ke sini Jogja makin berkembang, memang bener. Tapi sayangnya saya ngerasa
perkembangan yang paling signifikan di Jogja ya Cuma perkembangan secara fisik,
banyak gedung baru entah itu hotel, mall, pertokoan, kafe yang sengaja dibangun
untuk narik wisatawan atau bikin masyarakat kita jadi konsumtif, dan sistem
jalan raya yang berubah untuk sedikit- sedikit mengurangi kemacetan di beberapa
titik walaupun di tempat lain justru malah makin macet.
Kalo
orang pergi ke luar Jogja dalam kira- kira 2 bulan ini mungkin bakal sedikit
asing karena ada beberapa jalan yang diubah jadi satu arah. Dan mungkin bagi
orang yang udah nggak di Jogja selama 3 tahun-an mungkin bakal kaget karena
banyak banget yang berubah, ya Jogja nya, ya orang- orangnya, tapi tetep aja
saya merasa, di sini masih lebih baik.
Sangat
disayangkan banyak banget hal baru yang justru makin lama bikin masyarakat sini ngerasa asing dan nggak nyaman di kotanya sendiri, saya juga nggak ngerti gimana
caranya sampe bisa bangunan- bangunan itu berdiri angkuh di tanah Jogja. Lebih-
lebih saya kasihan sama masyarakat yang ada di sekitar hotel dan mall- mall
yang sudah ataupun yang lagi dibangun.
Di dekat rumah
saya, ada sebuah perkampungan. Waktu saya SD dulu, saya selalu pulang ke rumah
jalan kaki lewat jalan kampung tersebut. Di sana ada lapangan yang cukup luas
dan selalu dipakai bermain oleh anak- anak seumuran saya waktu itu dan tempat
berkumpul warga serta orangtua yang menjaga anaknya bermain. Ramai dan asik
banget pasti, kadang saya pun berhenti di sana untuk menonton Jathilan keliling
yang kebetulan sedang ada ketika saya lewat.
Sekarang
lapangannya sudah nggak ada, diganti sama hotel yang cukup mewah, tinggi dan
dalam. Saya bilang ‘dalam’ karena saya sempat mengintip saat dibangun tanah
disitu dikeruk sampai sangat- sangat dalam entah untuk pondasi atau basement.
Lapangan hilang, anak- anak nggak punya tempat untuk main bareng lagi, orang-
orang dewasa nggak bisa kumpul lagi, interaksi da kehidupan sosial warga jadi berkurang ungkin karena media "kumpul-kumpul" nya hilang, bisa aja jadi lebih "sendiri- sendiri", air yang di dapat untuk
kebutuhan sehari- hari nggak selancar dulu, kadang juga keruh, dan satu hal
yang bikin saya sedih, banyak orang yang kehilangan sinar matahari pagi, siang
mereka pun juga jadi gelap, ketutup bangunan tinggi dan mereka berada di belakangnya
kecil- kecil berjejer rapat. Saya pikir, di sekitar bangunan seperti itu pasti
ada yang kehilangan sinar matahari, dan hal lainnya pasti. Pembangunan yang nggak pake akal sehat gitu, ternyata bisa juga bikin pergerseran sosial dan lingkungan. Nggak kebayang kalo
saya yang punya rumah di situ, apa yang saya bisa rasain selama ini tiba- tiba
hilang gitu aja, pemandangan yang dilihat dari kecil tiba- tiba hilang, suasana
yang dirasain dari kecil juga udah nggak sama, tapi toh nggak bisa berbuat apa-
apa buat mencegah atau ngedapetin lagi hal kayak gitu.
Saya suka sekali
lewat Jalan Mangkubumi. Bangunannya masih asli sejak jaman dulu. Di kanan kiri
masih berdiri toko- toko jaman dulu, kantor yang masih asli bangunannya,
walaupun nggak modern kayak toko- toko dan kantor jaman sekarang, tapi kokoh
dan ‘ngayemi ati’, padahal di tengah kota, di sana saya bisa dapet suasana
Jogja ketika mungkin kakek nenek saya masih kecil. Tapi itu dulu. Sekarang
sebagian besar bangunannya udah berubah, untuk kantor provider telepon seluler,
dealer kendaraan bermotor, hotel mewah juga nggak ketinggalan, dan pemilik-
pemilik yang ngerubah toko mereka jadi lebih modern. Suasana asli Jogja jaman
dulu udah nggak kerasa lagi di sana.. Di tempat lain, makin- makin.
Agak ngelunjak rasanya kalo pengen Jogja bakal kayak
dulu lagi. Tapi sebagian besar orang yang udah ngabisin sebagian besar hidupnya
selama ini termasuk saya sendiri masih ngerasa, kalo di sini lebih baik.
7-22/09/14
I have finished my mapping practice in Karangsambung, Kebumen. It took 2 weeks and I felt isolated there. But in the other hand i felt very very happy because I could meet my college friends everyday, at breakfast and dinner time, and also everytime we made daily report and made tracks plan in the night that made us bored and frustated.
I did activity scheduled. In barrack, started from wake up in the early morning, bathroom queuing, watched my friends make up her own face, drying her hair and chit-chatting. At 6 o’clock we would had be in dining room to have breakfast together. After that, we went back to the barrack to prepare our field equipments. At 7 o’clock we gathered in the yard with our team and our lecturer to have briefing before going to field.
My partners in the field are Ipul and ‘si Bos Ganténg’ from Manokwari, Samuel. I went to the field with Samuel for 2 days and the other days with Ipul. At 8 am until 5 pm we were in the field, and took a little time for break to ate our own foodprovision and did prayer. Before our working time end, sometimes we alocated time to visit the Luk Ulo ‘super’ river to relax and enjoy the view, just played with the water or took some our pictures together and ‘act’ like local youth before went back to barrack.
Something that i found everyday just outcrop, forest, bushes and river, sometimes snakes or people’s sewage, errrrr! I had a moment where there was a frog standing beside my foot and then a snake appeared and grabbed the frog suddenly. How lucky i was the snake didn't make a fault to grab and bit my foot. And the most disgusting thing was when i was untentionally stepped on the fresh sewage, ugh!!! I hate it to the max.
Besides that, i found something I called "individual attractiveness". I liked to step on the dry leaves. I always enjoy the sounds they made. When i entered the jungle, i found so many falling dry leaves and i tought “it is heaven!”. So, when my partner observed the outcrop in his kavling, i made a thousand steps in the dry leaves instead and then my partner gave a comment, in javanesse: “plis deh Nggik koe ra sah bahagia..” Hmm, i assumed he just had not tried to make a step on dry leaves yet.
Arrived in barrack, i queued to take a bath immediately and after that we always shared everything that we found in the field, ‘gossiping’ or having short sleep while waiting dinner time at 6.30 PM. And all these activities repeated for 16 days. What a great experience and precious lesson for me and my friends for having this moment together before we live our own life.
| best place to take a rest after mapping activity |
| miss this road and the view |
Suasana Kagetan Menjelang Pemilu
Belakangan saya rada selo, jadi bisa lebih sering buka facebook dan liat- liat ada apa aja di sana. Gara- gara itu saya jadi tau, "Oooh lagi rame mau pemilu, ya." Keliatan, orang- orang pada ngepost artikel tentang capres ini sama capres itu. Ada yang bagus- bagusin idolanya, bahas mulai dari track record, korupsi lah, penculikan lah, pencitraan lah, bohong- bohong lah, macem- macem, sampe kehidupan pribadi si capres. Yang lucu lagi, kalo ada orang debat kusir di kolom comment postingan facebook, ada yang nyama-nyamain kesamaan pendapat misalnya si capres ini setuju sama program tertentu baru lagi temen saya tekuni. Nggak salah sih, cuma opini subyektif saya bilang, lucu aja, 'ngapain', dan 'terus kenapa' gitu lho.
Bukannya saya apatis, atau ya apalah sebutannya terserah. Saya cuma mikir hal kayak gitu tu yaudah.., mereka sudah ada, adanya udah seperti itu, dengan karakter dan sejarah hisup masing- masing, jadi ya nggak perlu didebatin lagi. Mereka juga nggak butuh dukungan postingan orang- orang di facebook atau di mana pun, mereka juga nggak butuh debat kusir dari pendukung dan para haters nya. Kalau memang kualitas dan visi misinya bagus, tanpa didukung secara agresif gitu pun mereka toh juga bakal menang dengan sendirinya.
Saya juga bingung loh, apa esensinya orang-orang ngeposting begituan. Oke lah kalo si capres pada kampanye karena mereka punya kewajiban sekaligus hak buat menyampaikan visi misi dan aspirasi serta tujuan mereka ke rakyat. Kalo orang- orang di facebook dan media sosial lain buat apa? Buat kampanye juga? Terus? Buat mempengaruhi orang lain supaya milih pilihan yang sama kayak pilihan mereka?
Udah deh, kalo emang si capres punya kualitas bagus, tanpa kalian susah-susah, tanpa kalian ribet adu pendapat, tanpa kalian repot- repot mensugesti orang lain, mereka toh pasti bakal menang dengan sendirinya. Sekali lagi ini emang opini subyektif saya, tapi kok saya jadi nganggep orang yang ngeposting artikel- artikel semacam itu kesannya rada agresif, seolah pengen nunjukin, "Ini lho yang bagus, you should choose it deh" atau kalo orang yang ngepost hal jelek lawan capres pilihannya, kesannya jadi kayak, "Nih, jangan pilih yang ini, ini tuh kriminal, ini tuh pencitraan, mending pilih yang satunya aja."
Oh men -_- Males banget ngga si? Kenapa orang- orang kayaknya nggak ikhlas kalo ada orang lain beda pendapat? kenapa orang- orang harus maksa banget orang lain harus sepemikiran sama mereka? Kenapa orang- orang nggak bisa santai dengan pilihannya masing- masing tanpa harus mensugesti orang lain biar sependapat sama mereka? kenapa harus kayak gitu, kenapa kita nggak saling 'yaudah' di pilhannya masing- masing dan saling menghargai pilihan tiap orang. Kalo kamu sama saya beda, yaudah gitu, kita tetep sama pilihan kita masing- masing tanpa harus saling mempengaruhi.
Saya pernah tuh lagi ngobrol sama tante saya sama anaknya, tante saya lalu nanya saya milih capres mana. Ya saya jawab aja kalo saya milih capres X. Terus tante saya nyeletuk, "Wah bal (nama anak tante saya) ada yang milih X nih bal." Terus saya dikatain berpikiran pendek gara- gara milih capres X dan ngasih saran mending saya milih capres Y. Saya bisa aja sih ngebales, "Ih ngapain , milih si Y, pemilihnya aja pada nggak toleran sama suka ngatain orang yang beda pendapat gini, cih." tapi ya ngapain gitu, cukup di batin sama di sini aja bilangnya, hehe. Lagian tante sama keponakan saya ngapain banget deh, toh saya juga nggak jelek-jelekin capres pilihannya, dan saya juga nggak menjabarkan kenapa saya milih capres X apalagi mensugesti mereka buat milih capres pilhan saya, kenapa mereka mesti ribet si. Dan ternyata kasus kayak gitu terjadi juga di facebook, di mana pun, yang skalanya lebih besar daripada sekedar obrolan nggak jelas tante- anak dan saya. Tolong deh ya -_-
Saya kadang juga mikir, kenapa orang- orang yang saya liat kesannya cuma kepentok sama masalah capres doang..halooo inget kan sama kata- kata tadi, salah satu dari mereka, kalo emang kualitasnya bagus, pasti toh bakal menang dengan sendirinya tanpa kita harus pada ribut dan ribet! Dukungan kalian cukup di kertas suara aja meeeeeen, itu jauh lebih berarti. Jadi semuanya tentram. Padahal ya, masih ada hal yang jauh lebih penting daripada masalah itu, kalo menurut saya, masalah hak pilih jauh lebih krusial.
Teori saya yang nyatain "capres yang kualitasnya emang bagus pasti bakal menang dengan sendirinya tanpa kalian dukung secara agresif" bisa dipatahin kalo ada penyelewengan hak suara pemilih atau ketidakmenjangkauan si pemilih. Maaf ya bahasanya acak- acakan. Saya sulit membahasakan apa yang saya pikirin.
Penting? Ya jelas penting. Banyak loh hak- hak suara di luar sana yang kebuang sia- sia. Masyarakat yang tinggal di pelosok dan sulit dijangkau, dan masyarakat yang ada di luar negri atau di luar kota yang nggak bisa make hak pilihnya karena kurang syarat administrasi atau apalah. Harusnya orang- orang yang pada debat kusir dan saling 'nunjukin' ataupun mensugesti orang lain itu sadar dan mikir gimana caranya biar hak suara semua pemilih bisa dipake, nunjukin gimana caranya nyoblos yang bener, banyak loh masyarakat yang belum paham hal yang terkesan sepele kayak gitu, nunjukin gimana ngurus syarat- syarat buat orang yang lagi nggak di tempat terdaftarnya, yang di luar kota, di luar negri, yang lagi dirawat di rumah sakit, biar hak semua pemilih tu bisa dilindungi dan dijamin, biar hasilnya valid, murni dari suara terbanyak dari seluruh rakyat. Kalo gitu kan adil, ketauan mana yang ada di hati rakyatnya, mana yang enggak. Kalo udah gitu, kan enak, jadi nggak ada saling curiga, yang kepilih asli dari suara terbanyak rakyat.
Subscribe to:
Posts (Atom)