Tuan Cicak
Tak ada yang salah dengan Tuan Cicak. Aku yang salah karena benci dengan Tuan Cicak. Aku benci tiap melihat Tuan Cicak merayap di tembok rumahku, dan ketika Tuan Cicak diam- diam mengendap di lantai, di dekatku.
Aku benci ketika aku menemukan Tuan Cicak ada di meja makan, merayap di atas santapanku, atau berada di antara piring- piring, ugh. Sebenarnya tak ada yang salah dengan Tuan Cicak, mungkin Ia hanya berusaha mencari makan untuk dirinya sendiri, atau untuk Ibu Cicak dan anak- anak Tuan Cicak dan Ibu Cicak. Aku yang salah karena benci dengan Tuan Cicak, sedangkan Tuan Cicak sendiri seekor Cicak. Bukan salahku kalau Tuan Cicak diciptakan sebagai Cicak. Aku saja yang salah karena membenci cicak.
Aku benci dengan bentuknya, terlihat begitu elastis dan cenderung transparan. Aku benci bagaimana Tuan Cicak bergerak, mengendap, apalagi dengan bunyi 'cek cek cek cek' ekor nya. Aku benci dengan bagaimana Ia melarikan diri ketika aku mengetahui keberadaannya, begitu gesit namun menakutkan. Bagaimana Ia melompat dari tembok ke meja makanku kemudia menjelajah di atas makanan- makanan yang ada.
Pernah aku, suatu kali bertemu Tuan Cicak pada saat yang tidak menyenangkan. Waktu itu aku memegang gagang pintu hendak membukanya, ternyata Tuan Cicak ada disana. Sepertinya aliran darahku meningkat 1000 kali tekanannya, apalagi ketika menyaksikan Tuan Cicak kemudia meloncat ke lantai, jantungku serasa ikut loncat.
Agama Lagi
Saya pernah beberapa kali ngalamin diskriminasi kecil tentang agama. Dinilai nggak total dalam memeluk agama yang saya anut. Ya, memang saya akui saya bukan orang agamis, tapi kesungguhan orang siapa yang bisa tau.
Agama itu ya hubungan vertikal kita sama Tuhan. Yang paling tau iman kita, ya kita sendiri sama Tuhan. Orang lain enggak.
Kadang saya heran sih kenapa orang lain sampe ada yang nilai kadar keimanan kita. Ya itu masih sepele mungkin itungannya, bahkan saya juga pernah liat orang men-tidak benar-kan agama lain secara terang-terangan, dan memicu keributan. Katanya Indonesia negara Bhineka Tunggal Ika, tapi masalah agama tingkat mikro semacem ini masih aja ada.
Apa patut orang yang notabene agamis, berpandangan seperti itu? Lalu dimana ajaran agamanya yang tentang jangan mengusik orang yang lain iman dan menjaga kerukunan sesama manusia. Agamis tapi bikin resah dengan alasan agamanya sendiri, menurut saya itu hal yang sangat berkebalikan.
Agama itu ya hubungan vertikal kita sama Tuhan. Yang paling tau iman kita, ya kita sendiri sama Tuhan. Orang lain enggak.
Kadang saya heran sih kenapa orang lain sampe ada yang nilai kadar keimanan kita. Ya itu masih sepele mungkin itungannya, bahkan saya juga pernah liat orang men-tidak benar-kan agama lain secara terang-terangan, dan memicu keributan. Katanya Indonesia negara Bhineka Tunggal Ika, tapi masalah agama tingkat mikro semacem ini masih aja ada.
Apa patut orang yang notabene agamis, berpandangan seperti itu? Lalu dimana ajaran agamanya yang tentang jangan mengusik orang yang lain iman dan menjaga kerukunan sesama manusia. Agamis tapi bikin resah dengan alasan agamanya sendiri, menurut saya itu hal yang sangat berkebalikan.
Refleksi
Saya lupa saya udah pernah bahas masalah ini sebelumnya apa enggak, tapi saya pengen nulis lagi.
Belakangan saya suka ngerasa 'kecil' sama diri saya sendiri, semacam nggak ada satu pencapaian pun yang saya raih, sedangkan temen- temen saya udah pada jauh ke sebrang, sementara saya masih di sini- sini aja tanpa ada yang bisa dibanggain.
Nggak jarang saya ngomong sama diri sendiri, "Saya kan nggak kayak gini, jadi saya nggak hebat. Saya kan nggak kayak gitu, jadi saya nggak pinter. Saya kan nggak begini, begitu, jadi saya punya apa? Jadi saya bisa apa?" Sering tuh.
Orang bilang rumput tetangga selalu lebih hijau, ya kenyataannya rumput tetangga memang lebih hijau pikir, emang iya, emang bener. Dan kadang saya juga bingung, saya ini orang yang kebanyakan impian atau justru orang yang nggak punya impian?
Saya tipe orang yang termotivasi sesaat. Ketika saya mendpat semangat, saat itu juga saya terbakar. Tapi toh api nggak bertahan lama. Setelah itu saya kembali jadi orang yang biasanya, penganut prokrastinasi tingkat tinggi buat semua urusan dan tugas- tugas saya. Saya udah banyak nerima domplengan dari banyak orang, tapi belum ada yang bisa bersarang lama di kepala saya. Ujung- ujungnya ya gini- gini aja.
Belakangan saya suka ngerasa 'kecil' sama diri saya sendiri, semacam nggak ada satu pencapaian pun yang saya raih, sedangkan temen- temen saya udah pada jauh ke sebrang, sementara saya masih di sini- sini aja tanpa ada yang bisa dibanggain.
Nggak jarang saya ngomong sama diri sendiri, "Saya kan nggak kayak gini, jadi saya nggak hebat. Saya kan nggak kayak gitu, jadi saya nggak pinter. Saya kan nggak begini, begitu, jadi saya punya apa? Jadi saya bisa apa?" Sering tuh.
Orang bilang rumput tetangga selalu lebih hijau, ya kenyataannya rumput tetangga memang lebih hijau pikir, emang iya, emang bener. Dan kadang saya juga bingung, saya ini orang yang kebanyakan impian atau justru orang yang nggak punya impian?
Saya tipe orang yang termotivasi sesaat. Ketika saya mendpat semangat, saat itu juga saya terbakar. Tapi toh api nggak bertahan lama. Setelah itu saya kembali jadi orang yang biasanya, penganut prokrastinasi tingkat tinggi buat semua urusan dan tugas- tugas saya. Saya udah banyak nerima domplengan dari banyak orang, tapi belum ada yang bisa bersarang lama di kepala saya. Ujung- ujungnya ya gini- gini aja.
Subscribe to:
Posts (Atom)
